Impian yang Belum Pupus

Sejak SMA, diriku sudah punya kesadaran bahwa ada sesuatu yang salah dengan sistem pendidikan. Tak cuma yang kualami di SMA-ku dulu, tapi di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Bahkan dulu waktu SMA, saya begitu frontal menyuarakan protes saya mengenai di Facebook. Dibaca oleh para guru, ada yang mengamini, ada pula yang tidak menyukai. Ada beberapa orang yang berpikir, ya menurut saja dengan sistem, buat apa memikirkan psikologis mental siswa. Ini juga menyedihkan buatku. 

Sistem yang ada sekarang, terutama pendidikan, dibuat untuk menciptakan kesalahpahaman antara tenaga pengajar dan siswa/mahasiswa. Lihat, banyak artikel yang menyalahkan mahasiswa, yang menurutnya begitu pasif, dengan dalih mahasiswa adalah penggerak negeri ini. Lihat juga, akun-akun parodi yang menyalahkan dosen atau guru sebagai pembuat derita bagi siswa/mahasiswa. Sudahkah kita sadar bahwa kesalahpahaman ini tidaklah alami, melainkan dibuat oleh suatu pihak yang memang menginginkan kita mundur? Jangan terburu-buru bilang Yahudi, Israel, Amerika, Zionis, atau Illuminati. Bagaimana kalau kita sebut pihak ini dengan “orang jahat” saja?

Dari apa yang saya amati, sesungguhnya kelompok orang jahat ini terlalu sempit untuk kita labeli dengan sebutan-sebutan di atas. Malah terlihat seperti jebakan stereotype. Sangat mengerikan jebakan mind control ini. Ketika pikiran kita dibuat sedemikian rupa untuk menyalahkan satu pihak dengan label tertentu, maka berhati-hatilah, mungkin kita terjebak dalam pemikiran yang sempit ini. Kelompok orang jahat ini memang sudah membuat perencanaan yang sistematis yang akhirnya akan seperti ini. Pernah dengar istilah “perang pemikiran” atau mungkin “mind control”? Ya, selamat datang di era tersebut. 

Kembali lagi ke sistem pendidikan. Yang ingin saya tulis di sini adalah mengenai kekurangan sistemnya sendiri. Menurut saya, apa yang menjadi kesalahan sistem adalah tidak adanya usaha untuk mencoba mengenali potensi si anak. Berkali-kali kita mendengar berbagai studi yang dilakukan oleh orang Barat sana, bahwa setiap anak sesungguhnya memiliki kemampuan spesial tersendiri. Dengan kata lain, tiap anak itu khas, tidak bisa disamakan dengan yang lain. Namun, lihat apa yang ada di lapangan, kembalikan pada pengalamanmu sendiri ketika bersekolah. Anak dicekoki belasan pelajaran dalam waktu seminggu. Belum lagi tugas yang banyak dan sulit dikerjakan. Anak digiring dalam keadaan seperti itu selama belasan tahun. Lihat, apa keluarannya? Apakah sudah banyak yang menjadi ilmuwan di bidangnya? Tidak. Pada akhirnya, yang tidak bertahan memilih untuk mencari pelarian, seperti bermain game online, atau bahkan lebih parah dari itu. 

Yang seharusnya terjadi adalah tiap anak diberi kesempatan untuk mengenali apa yang menjadi kemampuannya. Bukan untuk dipaksakan harus menguasai setiap cabang ilmu pengetahuan. Lebih parah lagi, sistem telah mendikte kita untuk bersaing satu sama lain. Coba pikirkan kembali, buat apa sih kita bersaing hanya untuk mendapatkan peringkat, piala, atau uang??? Bukankah lebih baik kita berkolaborasi, bekerja sama, agar saling menguntungkan dan memajukan umat? 

Guru, terpaksa mengikuti sistem karena, ya lagi-lagi uang untuk mencukupi kebutuhan mereka juga. Di sini kita pun tidak bisa menyalahkan guru atau dosen. Ya, beginilah sistem kita yang sebetulnya kejam ini, menciptakan kita untuk menjadi tergantung pada uang. Sebenarnya, kalau kita mau, kita bisa saja melepaskan diri dari pekerjaan yang seperti itu. Kita masih bisa menciptakan sistem yang profit tapi untuk memajukan umat. Atau bahkan kita membuat sistem yang tidak menggunakan uang sebagai alat transaksi, tetapi barter barang/jasa sehingga yang tercipta adalah kolaborasi, bukan kompetisi. Ah, impianku yang ingin kutulis di sini sebenarnya adalah kita semua kompak berpikir bersama untuk melawan sistem yang jahat ini. Adakah yang mau mengulurkan tangan?

Advertisements

Random

Mungkin saya cuma perlu berpikir, manusia yang masuk dalam kehidupanku adalah utusan-utusan Tuhan yang akan menyampaikan hikmah untukku. Entah berapa lama mereka menetap di sini, tetap hikmah itu yang harus aku cari. Jika yang aku cari adalah mereka, itu salah dan menyesatkan. Pantas saja susah berlepas diri, meskipun orangnya sudah pergi. Nyatanya memang begitu, pada akhirnya kita akan sendiri. Entah hidup, entah mati. Entah di atas tanah ataupun di bawah tanah. Sama saja. Makanya, seseorang yang aku kagumi pernah berkata, “Berhentilah untuk berpikir berteman dengan si ini atau si itu. Cukup berteman dengan Tuhan saja, Teman Sejati, Keindahan yang sesungguhnya. “

Semua mekanisme dan aturan itu, itu cuma sarana demi menyiapkan mental untuk berhadapan dengan Tuhan di Hari Pengadilan nanti. Bukankah hidup sendiri sudah merupakan ujian? Lalu apa yang perlu kau banggakan dalam menjalani ujian yang berat ini?