Pilihan

Wahai cinta pengukir senyumku, engkau selalu tahu bahwa aku mabuk dalam mencintaimu. Tatapan dan sentuhan itu sangat memabukkan. Terekam begitu kuat dalam benak si pemabuk ini. Namun tahukah engkau, itu berhasil menumbuhkan keinginan untuk bersama hingga akhir. 

Aku setengah sadar dalam mabuk ini, bahwa engkau hanya manusia. Kesadaranku semakin bertambah saat menyadari masa depan yang belum pasti. Bertambah lagi saat aku menyadari kekanak-kanakanku begitu mengganggu. Hampir-hampir aku mengulang kesalahan di masa lalu.

Mengapa?

Teringat pada kata-kata yang pernah terucap, “Bergantunglah hanya kepada Tuhan, jangan kepada makhluk.” Engkau yang mengucapkannya dan berkata inilah satu-satunya cara untuk menjadi dewasa.  

Betapa aku berterimakasih kepadamu karena ucapan itu. Hingga mengingatkanku bahwa Dia sudah lama memanggilku untuk menempuh jalan ini dengan serius, bukan main-main. 

Tenanglah, ini hanya masalah jarak dan waktu. Jika saatnya telah tiba, aku akan leluasa lagi mencintaimu. Namun, ingatlah, aku tidak pernah menjauh. 

Advertisements