Tuhan dan Zaman

Dunia kita tak berhenti berbilang

Menggemakan kehidupan yang bergelimang

Sayang semua itu mudah hilang

Dimakan waktu yang kian meradang

 

Apalah artinya kita memamerkan

Hal yang gampang tertelan zaman

Tak begitu kuat ku punya ingatan

Hanya demi rendahnya kenikmatan

 

Kalau memang nikmatmu lestari

Mengapa kau buat semua iri

Lebih layak dipendam sendiri

Daripada mengundang perih sanubari

 

Kalau harimu bagai kaca yang pecah

Mengapa kau tak sujud di sajadah

Kepada Tuhan yang membagikan jatah

Sehingga pagimu kembali cerah

 

Kerasnya dunia tak terasa

Kala kau tak menggantungkan asa

Pada dunia yang remuk binasa

Yang meninggalkan kau duduk nelangsa

 

Tak adakah yang lebih baik

Daripada mencerca dan mendelik

Ada menuntun kita sesama salik

Kepada tujuan utama Sang Khalik 

Advertisements

Tentang Lelaki

Hanya berawal dari jeritan sanubari

Selama ini kukekang rasa derita itu sendiri

Namun entah mengapa

Yang terlintas dalam pikiranku adalah kau saja

Lelaki baik nan ramah

Yang mencurahkan perhatian walau secercah

Bertemulah kita lagi

di koridor kemegahan kota ini

Ukiran senyummu begitu menggoda

Membujuk sukma hadirkan rasa

Bingkai keramahan yang kubutuhkan

Ada pada dirimu wahai pria idaman

Lentik jarimu meliku di tanganku

Seakan merobek dinding besar yang begitu kaku

Ada isyarat manis yang kau sematkan

Bahwa kau ingin cinta dalam keabadian

Dengan senang hati kan kupenuhi

Permintaan hati engkau penyejuk hati

Sastraku

Selamat pagi, wahai cinta pertama

Pikiran melanglangbuana ke cakrawala

Mencoba berbahasa kepada Sang Pencipta

Mengungkapkan rasa dengan cara yang tak biasa

Tentang mimpi dan asa di dalam dada

Api yang pernah padam

Tiba-tiba tersulut kembali

Kebosanan yang hinggap

Seakan ketakutan untuk menetap lama

Di dalam bilik jiwa yang tak kokoh ini

Apakah takdir sudah sampai pada waktunya

Untukku merajut mimpi menjadi kenyataan

Menyulam cinta menjadi kata-kata yang indah

Menjadi penulis dan pemantik harapan