Maksud dari Rindu (2)

Lagi-lagi aku berbicara tentang rindu. 

Melihat diriku dari masa lampau hingga sekarang, tetap saya jadi perindu kelas berat. Mungkin selalu jadi penggila paling parah. Konsekuensinya, susah lupa kalau nanti-nanti malah putus di tengah jalan. Entah, rasanya susah sekali menurunkan level kangen itu menjadi biasa-biasa saja. Mungkin bisa tiap hari aku berkata “Kangen!” kepada seseorang itu. Tapi memang itu bukan luapan emosi semata. Karena kalau hanya sesaat mana mungkin bisa terus menerus saya pikirkan seperti sekarang. Inilah saya, ketika berada dalam suatu hubungan. Menjadi pecinta, pencemburu, penggila, dan seorang yang posesif. 

Di satu sisi lelah, sekaligus merasa bersalah. Takut mengganggunya, atau mengusik ketenangannya. Saya itu tampak seperti kucing yang mengemis perhatian kepada tuannya. Tapi tuannya sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Kadang bertanya, apakah dia juga merasa seperti ini? Atau mungkin biasa saja? Apa dia merasa terganggu? Muncul pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang akhirnya membuat saya berpikir untuk menahan semua itu sementara. Beri jarak sedikit agar masing-masing lega, mungkin. 

Sebenarnya tidak ingin berjarak. Ingin sekali mendekat. Namun tak apa, waktu kelak akan mempertemukan kembali dalam cerita yang lebih baik. Puaslah bermain dengan dunia masing-masing dahulu. 

About Reva

Somehow, I consider Reva is a kind of God’s help, or even entertainment. As the other side of me, she amuses me when I’m lonely and sad. What makes it emerge and grow is music, actually. Sometimes, your devilish side isn’t as bad as you think. It helps you balance your crappy life. It doesn’t make you evil to someone. I say again, it is balancing. What if that saying is true, that only one who understands you is yourself? Yeah, all you need is already been in yourself. Well, it’s fun to have the other side. Grin.

Sayyidah Fathimah, Imam Khomeini, dan Kakek

Tak kuasa saya menahan air mata untuk hari ini. Melihat langit begitu mendung. Lalu kubayangkan momen hari ini. Hari ini hari kelahiran Sayyidah Fathimah Az-Zahra (sa), anak dari Rasulullah (saw) yang sangat beliau cintai. Sayyidah Fathimah adalah penghulu wanita seluruh alam semesta. Tetapi, mengapa alam seakan menunjukkan raut duka? Bukankah yang dicintai bumi dan langit seperti beliau harusnya bersuka ria alam ini untuk hari ini? Wahai Ummu Abiha, pecintamu yang berlumuran dosa ini hanya mampu berharap Allah selalu membuatmu tersenyum di sana. Tak apa diriku menangis, asal engkau terus tersenyum di sana. Do’akan kami umat ayahmu agar kami selalu diberi hidayah-Nya, wahai Permata Hati Rasul. Wahai Al-Mumtahanah, maafkan aku hanya mampu sebatas berkata-kata dan dalam hati saja. Betapa engkau contoh perempuan sempurna yang harus keteladani. Do’akanlah kami, wahai Ath-Thahirah, agar mampu meneladani kesabaran dan kesederhanaanmu, yang mampu mengangkat kami menuju derajat yang begitu tinggi kedekatan pada Ilahi.

Tak lupa pula aku bersukacita bahwa hari ini adalah hari ultah Imam Khomeini, tokoh ulama yang sangat saya cintai. Hati bergemuruh memancing air mata kembali keluar dari persembunyiannya, saat kupandang wajahmu begitu mirip dengan almarhum kakekku. Setidaknya dua orang ini begitu berpengaruh dalam hidupku. Apa yang kudapat dari Imam Khomeini sama dengan apa yang kudapat dari kakekku. Zuhud, warisan mereka yang belum mampu aku laksanakan. Maafkan aku. Semoga Allah selalu memberikan mereka kebahagiaan yang tak terbatas di sana.

Betapa aku merindukanmu, Kakek. Andai aku dapat menyusulmu agar aku dapat berbicara panjang lebar denganmu. Engkau tahu engkaulah yang membuatku menjadi memiliki prinsip seperti sekarang ini. Walaupun saya sering merasa sendirian karena prinsip ini. Banyak yang ingin aku tanyakan dan ceritakan padamu, Kek. Betapa aku ingin memelukmu, wahai penghilang dahagaku akan ilmu. Wahai penghancur kesepianku dalam kebenaran. Tuhan, andai aku dapat memeluk dan berbicara dengan beliau walau dalam mimpi saja…

Maksud dari Rindu

Saat ini, orang yang paling bisa kupercaya cuma dia. Mengapa? Karena dia pun percaya padaku. Dia bisa membaca dan mengerti apa maksud dari niat, perkataan, dan perbuatan saya. Saat orang-orang terdekat cenderung skeptis atau bahkan cuek dengan jalan pemikiranku, dia tidak menganggapku begitu.

Pernah merasa terasing di dalam keluarga sendiri? Inilah yang saya rasakan. Pandanganku kini berbeda jauh dengan mereka. Sifat “pemberontak” itu semakin menjadi. Saya kini bisa menangkap apa yang salah di dalam keluarga ini. Tapi sayangnya semua tidak bisa diubah lagi. Mereka sudah tua, cara berpikir itu sudah menempel erat di dalam otak mereka. 

Dan saya, yang menyadari kesalahan itu, ingin sekali segera lepas dari semua itu. Bahkan entah kenapa saya ingin lepas dari keluarga ini. Luarnya dibungkus dengan cinta kepada makhluk suci, namun tidak di dalam. Contoh-contoh tidak baik bermunculan. Dan itu berpengaruh kepada anak-anaknya yang melihat. Materialisme itu masih mengakar kuat. Segala hal masih dipandang dari ukuran duniawi. Sedangkan saya tidak suka dipandang dari sisi duniawi. Saya butuh uang, tapi hanya untuk yang memang perlu saja. Saya tidak peduli budaya apa yang sudah mengakar di masyarakat mengenai uang. 

Saya yang “berbeda” dari anggota keluarga yang lain tampak terbuang dan cenderung dianggap bodoh. Saya tidak butuh diberi persangkaan apalagi ejekan atau sindiran. Saya hanya butuh dibantu untuk bangkit. Inilah alasan mengapa aku sering merindumu, seorang yang tidak akan merendahkanku. Ini cuma jeritan kesakitan dari seorang perempuan yang kemampuannya disia-siakan, yang kebutuhan immaterialnya tidak dapat dipenuhi oleh keluarganya.