Jangan-jangan…

Saya mulai berpikir, sepertinya alasan manusia dikaruniai hawa nafsu adalah hanya untuk berkembang biak semata. Lalu sebenarnya (seharusnya) semua pekerjaan manusia digerakkan oleh apa? Akal. Kok bisa? Ya, karena kita diberi nyawa bukan untuk mencari kesenangan, tetapi untuk melaksanakan tanggung jawab yang luar biasa berat.

Contohnya malaikat, tanpa nafsu mungkin mereka tidak memiliki hasrat memiliki keturunan, tapi karena mereka makhluk 100% rasional justru akal-lah yang memotivasi mereka melakukan segala macam ibadah. Ibadah dalam arti sebenarnya. Malaikat tampak seperti robot? Oh sama sekali tidak. Akal menciptakan kebijaksanaan dalam melakukan segala sesuatu. Bijaksana tidak membuat malaikat tampak kaku dan tidak berdaya. Tapi sebaliknya, sangat berkharisma dan penuh semangat dalam beribadah. Kita selama ini tahu malaikat sering sekali memuji-muji dan mengagungkan Allah. Tapi kita tidak pernah tahu bagaimana cara mereka mengagungkan Allah. Apa mungkin lebih dari sekedar menggerakkan bibir mengucap zikir? Mungkin saja.

Kembali lagi ke hawa nafsu. Manusia sebagai satu-satunya makhluk yang dianggap mampu melaksanakan amanah berat Allah, tentunya tidak mampu melakukan segala sesuatunya sendiri. Maka manusia perlu regenerasi alias menciptakan keturunan agar tugas yang diembannya tidak terputus sampai akhir zaman. Memang agak membingungkan sih. Apa bisa proses reproduksi dilakukan tanpa melibatkan birahi sama sekali, hanya mengandalkan akal saja? Atau alias hanya formalitas belaka? Sepertinya tidak mungkin. Justru di sinilah peran akal untuk mengendalikan nafsu. Bukan menahan, tapi mengendalikan. Mungkin semacam keniscayaan dari adanya nafsu itu sendiri bahwa akan muncul konsep “kepuasan yang mencandu”. Keniscayaan ini akhirnya menjadi senjata ampuh yang dimanfaatkan setan untuk menyesatkan manusia. Jadi apakah nafsu bersalah? Tidak. Manusia yang salah karena tidak bisa mengendalikannya.

Correct me if i’m wrong, guys.

Immortal Words (1)

Intellect is a protecting cover, and virtue gives one a beautiful appearance. Compensate your physical [shortcomings] with your virtue, and fight your desires with your intellect. Love will surrender itself to you, and affection will manifest for you.

Well said by Ali bin Abi Thalib

Cinta

Cinta, menjadi suatu topik yang tidak ada habisnya untuk dibahas setiap orang dan setiap harinya. Dia dijadikan lirik-lirik lagu romantis. Dia diwujudkan dengan sentuhan dan belaian kasih sayang. Dia juga dapat berwujud perhatian dan hadiah. Aku pernah merasakan semua itu. Hingga ada suatu ruang kosong untuk mengajukan pertanyaan, apa sebenarnya artinya cinta?

Sebagai manusia yang penuh kekurangan, saya menyadari perlunya seseorang atau sekelompok orang yang dapat dijadikan penunjuk jalan dalam setiap persoalan dan saya telah menemukan itu. Sebut saja mereka “orang-orang bercahaya”. Mengenai cinta, “orang-orang bercahaya” ini pernah mengatakan:

“Jangan bergantung kepada cinta karena ia langka, tetapi bergantunglah kepada Allah yang Maha Kuasa”

“Orang yang mencintaimu tidak akan menjerumuskanmu ke dalam dosa, sedangkan orang yang membencimu akan menjerumuskanmu ke dalam dosa. “

 

Cinta itu langka. Ya, sangat langka. Kata mutiara kedua mencerminkan alasan mengapa cinta itu langka, yaitu sedikitnya yang mengajak kepada kebaikan dan Sumber dari kebaikan itu sendiri, yaitu Allah SWT. Kebanyakan cinta hanya mengajak kepada harapan palsu dan khayalan semu, yang akhirnya hanya berujung kekecewaan dan penyesalan.

Kalau memang cinta, ajaklah dia menuju hal-hal yang baik. Jangan suruh berkhayal apalagi berharap pada janji palsumu! Sekali lagi, ajaklah menuju hal-hal yang baik jika kau sungguh-sungguh mencintainya. Dan, kalau memang cinta, kau tidak akan membuatnya lupa kepada Tuhan 🙂