Si Bulan

Beberapa menit yang lalu saya mencoba mengubah ID Twitter saya menjadi @sieboelan. Tampak alay, namun saya beralibi ini mengikuti gaya penulisan Indonesia jaman dulu. Kadang tampak seperti nama Cina, seolah-olah saya mengungkap nama Cina saya (maklum asal saya dari Kota Pempek).

Jika dikembalikan pada bentuk aslinya, ID baru ini berisi kata “si bulan”. Mengapa selalu bulan yang aku jadikan nama ? Ya karena dia adalah namaku. Saya adalah pecinta Buku Pintar. Di dalam Buku Pintar terdapat kumpulan nama-nama dari berbagai suku atau ras. Yang saya ingat, Revi itu berasal dari kata “Reva” yang artinya “keras”. Sedangkan “Diana” artinya “dewi bulan”. Jika dirangkai, maka namaku berarti “dewi bulan yang keras”. Mungkin hatinya, mungkin juga perangainya. Tapi saya sampai sekarang terus berusaha memperhalus budi pekerti saya.

Diana — An amazing girl that has many good qualities, however is extremely modest about every one of them, including intelligence and beauty. They also are very nice and caring, however only to friends and other special people. They can also have extreme inner beauty that is very hard to find, but when it is found, you realize she is better than any other girl you may meet. ” (Urban Dictionary)

*kabur

I’m not that stupid. The moment I laugh and enjoy the music, I also feel the emptiness at the same time.

My heart keeps saying: I want something more than this. I want something deeper and higher. I want a new adventure in my life.

Now I feel so tired and bored. It’s like being imprisoned in so-called golden cage. I may feel and touch the gold, but I know that’s just something fake.

I often become fake human. I often lie to myself. I often ask for something from people, while I know I’ll never get it from them.

I need some time to be alone. I need to cut off for a while. I gotta renew this soul. Thanks, Claire de Lune.

Jangan-jangan…

Saya mulai berpikir, sepertinya alasan manusia dikaruniai hawa nafsu adalah hanya untuk berkembang biak semata. Lalu sebenarnya (seharusnya) semua pekerjaan manusia digerakkan oleh apa? Akal. Kok bisa? Ya, karena kita diberi nyawa bukan untuk mencari kesenangan, tetapi untuk melaksanakan tanggung jawab yang luar biasa berat.

Contohnya malaikat, tanpa nafsu mungkin mereka tidak memiliki hasrat memiliki keturunan, tapi karena mereka makhluk 100% rasional justru akal-lah yang memotivasi mereka melakukan segala macam ibadah. Ibadah dalam arti sebenarnya. Malaikat tampak seperti robot? Oh sama sekali tidak. Akal menciptakan kebijaksanaan dalam melakukan segala sesuatu. Bijaksana tidak membuat malaikat tampak kaku dan tidak berdaya. Tapi sebaliknya, sangat berkharisma dan penuh semangat dalam beribadah. Kita selama ini tahu malaikat sering sekali memuji-muji dan mengagungkan Allah. Tapi kita tidak pernah tahu bagaimana cara mereka mengagungkan Allah. Apa mungkin lebih dari sekedar menggerakkan bibir mengucap zikir? Mungkin saja.

Kembali lagi ke hawa nafsu. Manusia sebagai satu-satunya makhluk yang dianggap mampu melaksanakan amanah berat Allah, tentunya tidak mampu melakukan segala sesuatunya sendiri. Maka manusia perlu regenerasi alias menciptakan keturunan agar tugas yang diembannya tidak terputus sampai akhir zaman. Memang agak membingungkan sih. Apa bisa proses reproduksi dilakukan tanpa melibatkan birahi sama sekali, hanya mengandalkan akal saja? Atau alias hanya formalitas belaka? Sepertinya tidak mungkin. Justru di sinilah peran akal untuk mengendalikan nafsu. Bukan menahan, tapi mengendalikan. Mungkin semacam keniscayaan dari adanya nafsu itu sendiri bahwa akan muncul konsep “kepuasan yang mencandu”. Keniscayaan ini akhirnya menjadi senjata ampuh yang dimanfaatkan setan untuk menyesatkan manusia. Jadi apakah nafsu bersalah? Tidak. Manusia yang salah karena tidak bisa mengendalikannya.

Correct me if i’m wrong, guys.