Maksud dari Rindu (2)

Lagi-lagi aku berbicara tentang rindu. 

Melihat diriku dari masa lampau hingga sekarang, tetap saya jadi perindu kelas berat. Mungkin selalu jadi penggila paling parah. Konsekuensinya, susah lupa kalau nanti-nanti malah putus di tengah jalan. Entah, rasanya susah sekali menurunkan level kangen itu menjadi biasa-biasa saja. Mungkin bisa tiap hari aku berkata “Kangen!” kepada seseorang itu. Tapi memang itu bukan luapan emosi semata. Karena kalau hanya sesaat mana mungkin bisa terus menerus saya pikirkan seperti sekarang. Inilah saya, ketika berada dalam suatu hubungan. Menjadi pecinta, pencemburu, penggila, dan seorang yang posesif. 

Di satu sisi lelah, sekaligus merasa bersalah. Takut mengganggunya, atau mengusik ketenangannya. Saya itu tampak seperti kucing yang mengemis perhatian kepada tuannya. Tapi tuannya sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Kadang bertanya, apakah dia juga merasa seperti ini? Atau mungkin biasa saja? Apa dia merasa terganggu? Muncul pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang akhirnya membuat saya berpikir untuk menahan semua itu sementara. Beri jarak sedikit agar masing-masing lega, mungkin. 

Sebenarnya tidak ingin berjarak. Ingin sekali mendekat. Namun tak apa, waktu kelak akan mempertemukan kembali dalam cerita yang lebih baik. Puaslah bermain dengan dunia masing-masing dahulu. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s