Sayyidah Fathimah, Imam Khomeini, dan Kakek

Tak kuasa saya menahan air mata untuk hari ini. Melihat langit begitu mendung. Lalu kubayangkan momen hari ini. Hari ini hari kelahiran Sayyidah Fathimah Az-Zahra (sa), anak dari Rasulullah (saw) yang sangat beliau cintai. Sayyidah Fathimah adalah penghulu wanita seluruh alam semesta. Tetapi, mengapa alam seakan menunjukkan raut duka? Bukankah yang dicintai bumi dan langit seperti beliau harusnya bersuka ria alam ini untuk hari ini? Wahai Ummu Abiha, pecintamu yang berlumuran dosa ini hanya mampu berharap Allah selalu membuatmu tersenyum di sana. Tak apa diriku menangis, asal engkau terus tersenyum di sana. Do’akan kami umat ayahmu agar kami selalu diberi hidayah-Nya, wahai Permata Hati Rasul. Wahai Al-Mumtahanah, maafkan aku hanya mampu sebatas berkata-kata dan dalam hati saja. Betapa engkau contoh perempuan sempurna yang harus keteladani. Do’akanlah kami, wahai Ath-Thahirah, agar mampu meneladani kesabaran dan kesederhanaanmu, yang mampu mengangkat kami menuju derajat yang begitu tinggi kedekatan pada Ilahi.

Tak lupa pula aku bersukacita bahwa hari ini adalah hari ultah Imam Khomeini, tokoh ulama yang sangat saya cintai. Hati bergemuruh memancing air mata kembali keluar dari persembunyiannya, saat kupandang wajahmu begitu mirip dengan almarhum kakekku. Setidaknya dua orang ini begitu berpengaruh dalam hidupku. Apa yang kudapat dari Imam Khomeini sama dengan apa yang kudapat dari kakekku. Zuhud, warisan mereka yang belum mampu aku laksanakan. Maafkan aku. Semoga Allah selalu memberikan mereka kebahagiaan yang tak terbatas di sana.

Betapa aku merindukanmu, Kakek. Andai aku dapat menyusulmu agar aku dapat berbicara panjang lebar denganmu. Engkau tahu engkaulah yang membuatku menjadi memiliki prinsip seperti sekarang ini. Walaupun saya sering merasa sendirian karena prinsip ini. Banyak yang ingin aku tanyakan dan ceritakan padamu, Kek. Betapa aku ingin memelukmu, wahai penghilang dahagaku akan ilmu. Wahai penghancur kesepianku dalam kebenaran. Tuhan, andai aku dapat memeluk dan berbicara dengan beliau walau dalam mimpi saja…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s