“Em Fatima rezei por ti” dan Refleksi Kebiasaan Berdo’a

Di dalam tulisan ini aku ingin membahas pendapatku tentang cerita kemunculan Bunda Maria di kota Fatima, Portugal di tahun 1917. Jangan diambil serius karena ini cuma opini. Selanjutnya silahkan tafsir sendiri.

Em Fatima rezei por ti, yang artinya “di dalam Fatima aku berdo’a untukmu”. Tampak begitu manis arti kalimat pendek ini. Berawal dari mantengin timeline Facebook, terlihat salah satu diskusi mengenai kalimat ini. Ada kaitannya tentang suatu kota kecil bernama Fatima di negara Portugal. Katanya, pernah muncul penampakan Bunda Maria di sana kepada tiga anak kecil. Masing-masing bernama Lucia, Jacinta, dan Fransisco. Penampakannya tidak cuma sekali, malah hingga enam kali. Dalam enam kali penampakan itu, Bunda Maria memberikan tiga pesan kepada tiga anak kecil tersebut. Menurut situs fatima.org (lengkapnya ada di situs ini), baru dua yang dipublikasikan. Pesan ketiga masih ditahan oleh pihak gereja, entah alasannya apa. Pesan pertama adalah “Vision of Hell”, mengenai apa yang tampak dari neraka yang berisi jiwa-jiwa pendosa, yang disebabkan tidak ada yang berdo’a dan berkorban untuk mereka ini. Pesan kedua mengenai Rusia, yang saya pribadi tidak begitu mengerti maksudnya. Berdasarkan situs yang saya baca, pada kemunculan Bunda Maria pernah disampaikan oleh beliau bahwa jika orang-orang tidak berhenti menyakiti Tuhan, maka Tuhan akan menghukum dunia dengan perang, kelaparan, penganiayaan Gereja dan Bapa Suci, melalui Rusia sebagai alat penyucian (biasanya hukuman diartikan sebagai penyucian dari dosa).

Yang menarik dari peristiwa penampakan Bunda Maria ini adalah permintaan Bunda Maria pada setiap pertemuan dengan tiga anak kecil tersebut, yaitu untuk tidak pernah melupakan ritual membaca rosary/tasbih. Mungkin bisa dirujuk langsung ke situs fatima.org sendiri. Saya melihat bacaan-bacaan di dalam rosary ini begitu bagus. Intinya, memohon kepada Tuhan untuk mengampuni orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya atau mendo’akan ampunan kepada para pendosa juga. Hal ini mengingatkanku dengan kata-kata Ali bin Abi Thalib, “Berdo’alah untuk orang lain sebelum untuk dirimu sendiri. “. Di sini terdapat kesamaan tujuan, bahwa kita tidak boleh egois dalam mengharap berkah dan anugrah-Nya. Akan lebih baik jika kita mengharap kebaikan untuk bersama juga. Sama saja dengan mendo’akan orang-orang yang tersesat agar ditunjukkan hidayah oleh Allah lebih baik daripada mencari-cari kesalahan dan mencerca mereka yang tersesat ini. Ini adalah ajaran luhur secara turun-temurun yang diajarkan oleh semua nabi dan rasul Allah. Ada baiknya jika ini jadi bahan renungan buat kita dan dapat diterapkan dalam kebiasaan berdo’a kita. Semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s